Saturday, 10 November 2012

SEJARAH DESA KEDOKANBUNDER, INDRAMAYU

SEJARAH DESA KEDOKANBUNDER, INDRAMAYU

Al kisah berangkat dari cerita kanjeng Sunan Gunung Jati dengan istrinya Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten sedang bermusyawarah memikirkan mimipi dan bisikan Ghoib, yang pada intinya disuruh membuka pedukuhan di Hutan Lebak Sungsang (Jawa : Alas Lebak Sungsang). Maka Sunan Gunung Jati memanggil Pangeran Pager Toya dan mertuanya Ramanda Tubagus Warida dan pamannya Tubagus Arsitem beserta Anaknya Ratu Winaon, Sultan Hasanuddin dan para pengawalnya sebanyak 60 orang untuk mengiring keberangkatan istrinya Sunan Gunung Jati (Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten) menuju Wilayah Hutan Lebak Sungsang (Alas Lebak Sungsang). Sunan Gunung Jati merestui atas keberangkatannya dengan mengendarai dua kapal layar besar.

Singkat cerita, rombongan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten tiba di diwilayah Muara Ciasem dengan tujuan mencari perbekalan dan air minum, serta menanyakan keberadaan wilayah Hutan Lebak Sungsang. Akan tapi di daerah Ciasem tidak ada seorangpun yang tahu keberadaan Hutan Lebak Sungsang maka rombongan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten melanjutkan perjalananya dengan berlayar menuju ke Wilayah Cirebon. Di tengah perjalanan rombongan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten singgah di sebuah pulau yang bernama Pulau Gosong, di situ terdapat seorang kakek-kakek yang sedang menjemur rebon (udang kecil) dan terdapat sebuah Candi setelah didekati. Pangeran Pager Toya bertanya kepada Kakek itu dan beliau menyebutkan nama yaitu Ki Kriyan. Karena Ki Kriyan menghuni pulau tersbut maka Candi yang ada dipulau Gosong itu dinamanakan Candi Kriyan.

Setelah mengetahui keberadaan pulau tersebut Pangeran Pager Toya menanyakan keberadaan wilayah Hutan Lebak Sungsang. Maka Ki Kriyan menjawab “Hutan Lebak Sungsang ada di bekas aliran Bengawan Cigalaga Sangyang Kendit” Kata Ki Kriyan berlayarlah menuju tegalan panjang dan luas. Setelah mendapat petunjuk dari seorang kakek penghuni pulau Gosong maka rombongan Nyi Mas Ratu ayu Kawunganten melanjutkan perjalannya menuju tegalan yang panjang dan luas. Sesampainya di tegalan tersebut maka rombongan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menelusuri bekas bengawan Cigalaga menuju Hutan Lebak Sungsang. Tegalan panjang dan luas tersebut sekarang menjadi sebuah Desa di pinggiran laut yang bernama Desa Tegalagung.

Rombongan berjalan ke barat menuju bekas aliran Bengawan Cigalaga. Setelah menelusuri ke arah barat dari tegalan panjang dan luas maka sampailah di bekas aliran bengawan Cigalaga yang masih banyak airnya dan pohon­-pohon yang besar serta tanahnya rendah, berbukit dan masih banyak binatang buas yang minum dan mandi disitu. Maka Nyi Mas Ratu Kawunganten mencari tanah yang lebih tinggi untuk membangun gubuk untuk beristirahat para pengikutnya.

Setelah beristirahat beberapa hari mulailah para pengikut dan pengawalnya membabad (menebang) pohon-pohon yang besar yang ada di wilayah hutan Lebak sungsang pada tahun 1497. Satu pohon ditebang oleh 10 orang dalam sehari tidak bisa tumbang karena sangat besarnya pohon tersebut. Hampir satu bulan pengikut dan pengawal membabad (menebang) hutan lebak sungsang baru bisa membentuk lahan beberapa puluh meter, belum lagi anak buahnya beliau banyak yang mati dan luka diterkam binatang buas. Belum lagi harus bertempur dengan penghuni hutan tersebut yaitu dua makhluk siluman yang bernama Dewa Arus dan Dewi Santi yang berwujud seekor ular Raksasa maka Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten bertafakur (bersemedi) kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi kemudahan dalam membabad (menebang) Hutan Lebak Sungsang tersebut.

Dalam tafakumya (semedi) ada suara tanpa rupa (bisikan Ghoib) yang memerintahkan agar Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten menanjabkan Tusuk Kondenya (Kancing Gelung) pada sebatang kayu bebsar yang telah roboh. Berkat kemurahan Tuhan yang Maha Esa maka terbakarlah pohon besar itu. Nyala api yang membungbung membakar seluruh Hutan Lebak Sungsang, semua hewan berlarian dan tidak sedikti yang mati terbakar serta banyak hutan-hutan di daerah lain yang ikut terbakar, diantaranya sekarang disebut Desa Jambe, Desa Bulak, Desa Tugu dan Desa Eretan. itu hasil pembakaran hutan hutan lebak sungsang yang apinya berterbangan.

Dalam kurun waktu satu tahun semua hutan pohon-Pohon yang besar sudah rata dengan tanah. Selesai membakar dan mebabad hutan tersebut maka dipanggilnya paman Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten yaitu Tubagus Arsitem dan 10 orang pengikutnya untuk melaporkan kepada suaminya (Syech Sarif Hidayatullah) bahwa tugasnya telah selesai untuk membuka pedukuhan baru di wilayah hutan Lebak sungsang dan dimohon Sunan Bonang untuk ikut menyaksikan daerah yang baru dibuka itu.

Sunan Bonang bersedia datang di pedukuhan lebak sungsang ikut dengan rombongan Mbah Kuwu Sangkan Cirebon dan Sunan Kali Jaga. Sesampainya rombongan di Pedukuhan Lebak Sungsang, Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten merasa seneng kurang bunga (gembira tapi merasa sedih). Karena kedatangan rombongan tidak beserta suaminya, dikarenakan suaminya memenuhi undangan Sultan Mesir.

Sunan Bonang merasa bangga atas kegigihan dan kesaktian beliau dengan Pusaka Tusuk Konde yang bisa mengeluarkan api dan membakar semua hutan yang ada disekelilingnya. Sebagai tanda jasanya (penghargaan) Sunan Bonang memeberikan gelar kepada Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten dengan sebutan RATU SUNEU (bahasa Indonesia : Ratu Api).

Atas saran Mbah Kuwu Cirebon untuk segera membangun gubug yang besar untuk tempat kediamanya dan anak-anaknya serta pengikutnya. Maka dibangunlah 4 gubug besar.
1.   Untuk Nyi Mas R.A Kawunagnten dan keluarganya
2.   Untuk Mbah Kuwu sangkan dan Pager Toya
3.   Untuk Ayah dan Pamannya
4.   Untuk pengawal dan pengikutnya

Selang beberapa bulan beliau meminta agar segera ditetapkan daerah yang telah di buka menjadi pedukuhan untuk diberi patok (batas). Maka berangkatlah Ki Kuwu Sangkan, Sunan Bonang dan Pangeran Pager Toya menuju batas wilayah Lebak Sungsang. Ki Kuwu Sangkan berjalan menujuh arah selatan dan Pangeran Pager Toya mengambil arah ke utara sedangkan Sunan Bonang meninjau bekas-bekas hutan yang terbakar di daerah lain.

Setelah selesai mengelilingi dan memberi batas-batas (patok) wilayah Lebak Sungsang, Pangeran Pager Toya beristirahat di bawah pohon kedawung dekat dengan gubug Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten sekitar seratur meter sebelah barat dan beliau mengubur ikat kepalanya di bawa pohon kedawung itu (sekarang disebut petilasan Ki Dawung yang masih di anggap keramat).

Sedangkan Ki Kuwu Sangkan setelah selesai mengadakan pemberian batas (patok) beristirahatlah di barongan pring (pohon bambu) yang sangat banyak yang di sekelilingnya ditumbuhi pohon pandan dan Ki Kuwu Sangkan duduk di atas sebuah batu. Untuk mengenang jasa Ki Kuwu Sangkan maka tempat duduk tesebut dikubur dan dinamakan Petilasan Ki Sela Pandan (batu pandan) yang masih dianggap keramat sampai sekarang (tepatnya berada di sebelah selatan lapang bola Kedokanbunder) dalam mengelilingi batas-batas pedukuhan tersebut. Pada tahun 1499 dan inilah yang menjadi dasar Hari Jadi Desa Kedokanbunder. Setiap tahunnya di adakan ider bumi (keliling tanah), setelah mengadakan ider bumi para penduduk mengadakan syukuran dengan menyediakan makanan dan hasil bumi (Wulu Wetu = Sansekerta) berupa beras, jagung, kacang-kacangan dan buah-­buahan yang disebut sedekah bumi yang terus dilestarikan dan dilaksanakan setiap tahun di bulan Surah tanggal 14. sampai sekarang masih tetp diadakan sedekah bumi setiap tahunnya.

Setelah itu Ki Kuwu Sangkan dan Pangeran Pager Toga juag Sunan Bonang pulang kembali ke Cirebon. Sedangkan yang masih tinggal dipedukuhan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten adalah Ratu Winaon, Sultan Hasanuddin, Tubagus Warida dan Tubagus Aritem serta 40 orang pengikutnya.

Banyak orang yang berdatangan ke Padukuhuan Lebak Sungsang. Kebanyakan orang yang datang ingin bercocok tanam dan mendirikan gubug sebagai tempat bermukim. Namun ada persyaratan yang harus dipenuhi yaitu syaratnya harus memeluk agama Islam. Orang-orang yang datang ke Padukuhan Lebak Sungsang dari berbagai daerah diantaranya dari cirebon, keturunan arab, keturunan India, keturunan Cina, bawean karimun jawa dari bagelen dan juga dari Demak.

Setelah banyak orang yang berdatangan, Pedukuhan Lebak Sungsang dilanda kekeringan, Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten sangat perihatin dan sedih hatinya melihat penduduk kekurangan air. Segala reka daya (usaha) belum juga membuahkan berhasil untuk menanggulangi kekeringan yang melanda Padukuhan Lebak Sungsang. Bukan hanya tanaman yang menjadi korban keganasan kekeringan itu bahkan sampai binatang dan jiwa manusia pun tidak sedikit yang menjadi korban kekeringan tersebut.

Maka beliau bersama sanak saudaranya, bapak dan pamannya tetap tabah dan berdoa kepada Allah SWT. Dalam doanya beliau mendapat bisikan ghoib agar menancapkan tusuk kondenya (kancing gelung) ke tanah yang lebih rendah maka ditancapkannya pusaka beliau dengan ijin Tuhan, maka keluarlah air yang sangat deras (sumber air). Karena sangat derasnya air longsorlah tanah disekitarnya. Untuk menahan sumber air tersebut jangan sampai tertutup kembali maka dipasanglah tembok penahan longsor dengan menggunakan balok-balok kayu yang besar.

Amanat Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten kepada rakyatnya agar sumber air tadi dijaga dan dilestarikan agar anak cucunya tidak lagi kekurangan air, sumber air tersebut diberi nama dengan sebutan SUMUR GEDE (sampai sekarang masih terawat dan masih dikeramatkan). Air tersebut oleh penduduk Lebak Sungsang dimanfaatkan untuk minum, berwudhu, mandi dan keperluan cocok tanam.

Kesaktian belaiu sangat termasyur (terkenal) sampai ke Negeri Campa dan banyak negara-negara lain yang ingin mengayoni (mengukur) kehebatan beliau. Maka pada suatu hari datanglah seorang Putra Raja Campa yang bernarna JIOU PHAK dan dua orang pengawalnya JIAU GO dan Qi Pa Lhiang serta 40 orang prajuritnya yang bertujuan untuk meminang beliau, tapi beliau menolak karena sudah mempunyai suami. Putra Campa tetap memaksa kehendaknya untuk meminangnya namun Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten tetap pada pendirian, maka terjadila peperangan dan uji kesaktian antara Jiou Phak dan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten. Dalam perkelahian tersebut Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten hampir terkalahkan baik kekuatan tenaga dan kesaktianya oleh Putra Campa tersebut.

Ki Kuwu Sangkan mengetahui bahwa di Pedukuhan Lebak Sungsang tengah terjadi peperangan antara Putra Raja Campa seprajuritnya dan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten pengawal dan pengikutnya maka Ki Kuwu Sangkan datang Ke Pedukuhan Lebak Sungsang dan meberikan Golok Cabang kepada Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten. Golok Cabang lalu disabetkan ke tanah oleh beliau maka Jiou Phak langsung terjatuh terduduk (Jawa = Kedodok) dan sekarat. Bekas sekaratnya itu sampai bundar (jawa = bunder). Untuk mengenang pertempuran Putra Campa yang kalah terduduk bundar akhirnya tempat itu dinamakan KEDOKANBUNDER (Asal kata  terduduk=Kedodok dan Bundar=Bunder). Yang pada semula namanya Pendukuhan Lebak Sungsang akhirnya diganti menjadi KEDOKAN BUNDER.

Dalam peperangan itu Putra Campa sampai dengan menghembuskan nafas terakhirnya dan dikuburkan di tanah yang agak tinggi yang sampai sekarang masih bisa kita lihat kuburannya di sebelah timur lapang bola Desa Kedokanbunder, sedangkan para prajuritnya yang masih hidup enggan pulang ke negeri Campa akan tetapi menyerah dan mengabdi di Pedukuhan Kedokanbunder sampai akhir ayatnya. Putra Campa yang bernama Jiau Go kuburannya masih bisa kita lihat di blok lor Cilengkong yang disebut Petilasan Ki Jago.

Akhirnya beliau memerintah padukuhan dan mensyiarkan Islam dengan penuh kesabaran, Ketawakalan. Hingga pada suatu hari beliau sakit, makin hari sakitnya semakin bertambah parah, orang-orang pun berdatangan dari tiap pelosok. Masing-masing ingin tahu sakit yang dideritanya. selain daripada itu mereka mengharapkan doa dan keberkaanya hingga rumah beliau penuh dengan pengikut- pengikutnya.

Pada saat beliau akan meninggal, beliau sempat menyuruh putra-putrinya mendekati seraya berkata : "Anak isun lan para pengikut isun kabeh terutama, turutana perintae Gusti Allah Ian perintae Wong tuamu sing wis lairaken ira Ian gedeaken ira Ian muliaken tamu kang teka ning umae ira lan ngomonga sing bener, melakua ning tujuan aja nganti keder, dadia menusa aja dadi uwong.Sebab lamon dadi wong-wongan mung diwedeni ning manuk"
(Arti kata dalam bahsa Indonesia : Khususnya anak saya beserta para pengikutku semuanya, turutilah perintahnya Allah SWT dan perintah orang tuamu yang telah melahirkan kamu dan membesarkan kamu dan muliakan tamu yang datang di rumah kamu dan berbicaralah dengan baik dan benar, berjalanlah pada tujuan jangan sampai tersesat, jadilah manusia jangan sampai jadi orang-orangan yang hanya ditakuti oleh burung)

Pada tahun 1561 beliau wafat dan tersebarlah berita kemana-mana, para pengikutnya baik yang dekat maupun yang jauh datang ke Padukuhan Kedokanbunder dengan penuh rasa duka dan disertai cucuran air mata. Karena orang yang dicintai telah tiada. Setiap orang terus berdatangan menziarahi makam beliau sambil memperlihatkan kecintaan dengan membacakan puji-pujian dan bacaan-bacaan untuk mendo’akan beliau.

Kesemuanya itu di tunjukkan kepada beliau (Nyi Mas Rata Ayu Kawunganten) sebagai tanda penghormatan dan mengenang akan keteladanan dan kebijaksanaannya. Beliau dipanggil sang Kholik pada tahun 1561 dan kepemimpinan pedukuhan juga syiar Islam ditersukan oleh anak cucu dari keturunannya. Kebiasaan-kebiasan yang dulu seperti IDER BUMI (Keliling Wilayah), SEDEKAH BUMI (Syukuran) tetap dilaksanakan tiap tahun hingga sekarang.

Dan setelah pedukuhan-pedukuhan lain ada penghuninya maka pimpinan pedukuhan Kedokanbander mengundang masyarakat yang ada di pedukuan lain untuk berkunjung ke pedukuan Kedokanbander dalam rangka untuk ikut IDER BUMI dan sedekah bumi serta doa bersama untuk mendoakan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten. Kedatangan masyarakat dari pedukuhan lain yang datang berkunjung ke Pedukuhan Kedokanbunder pada saat itulah disebut Acara NGUNJUNG/UNJUNGAN yang artinya KUNJUNGAN dan acara adat tersebut masih tetap dilaksanakan serta dilestarian sampai sekarang. Sumber air yang disebut SUMUR GEDE juga setiap acara UNJUNGAN rame dikunjungi oleh orang untuk mengambil air dari sumur tersebut sebagai tumbal tanaman di sawah/ladang dan sebagai penyembuhan penyakit (Allahu Alam).
Atas Ketekunan juru kunci, yang semula Situs Kuburan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten berupa gubug ilalang sedikit demi sedikit terus mengalami pemugaran/perbaikan sampai sekarang.

Maka dari itu kepada generasi penerus peliharalah dan lestarikanlah peninggalan nenek-moyang kita.